A. Pendahuluan

Sistem Keamanan Pangan

Sistem keamanan pangan merupakan kebutuhan mendesak untuk ditumbuhkembangkan sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan kebutuhan zat gizi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Dalam perspektif inilah mata kuliah Ilmu Manajemen Kesehatan Ternak dan Kesejahteraan ternak diajarkan, mengingat kesehatan ternak buka saja sebuah persoalan mikro yang nuansanya memiliki dampak makro bagi pembangunan manusia dan hubungan antar bangsa dan negara.


Pembangunan sub sektor peternakan mengalami perubahan-perubahan mendasar karena dihadapkan pada 3 (tiga) tuntutan yaitu (a) pemanfaatan teknologi peternakan yang semakin meningkat oleh karena tuntutan efisiensi dan standarisasi serta berkembangnya industrialisasi; (b) tuntutan kualitas produk peternakan dan keamanan konsumen sebagai akibat tuntutan kualitas hidup dan kehidupan yang semakin meningkat; (c) tuntutan sistem informasi yang lebih handal antara lain untuk keperluan “market intelegence”, sistem informasi pasar dan harga, peramalan wabah penyakit, tingkat produksi dan penyakit hewan sebagai akibat pembangunan yang semakin komplek dan kompetetif .

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya suatu organisasi dan proses penggunaan semua sumberdaya organisasi untuk tercapainya suatu organisasi yang telah ditetapkan. Dalam banyak hal, manajemen adalah suatu “seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orangorang”. Batasan atau definisi manajemen yang lain mengatakan bahwa manajer untuk mencapai tugas organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk menjalankan tugas-tugas yang tidak munkin akan dijalankan sendiri. Kesehatan ternak merupakan bagian integral sistem produksi. Oleh karena itu faktor-faktor produksi sangat mempengaruhi keberhasilan manajemen kesehatan ternak.


Manajemen kesehatan ternak dapat diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian faktor-faktor produksi melalui optimalisasi sumberdaya yang dimilikinya agar produktivitas ternak dapat dimaksimalkan, kesehatan ternak dapat dioptimalkan dan kesehatan produk hasil ternak memiliki kualitas kesehatan sesuai dengan standar yang diinginkan. Manajemen kesehatan ternak harus melalui suatu proses yaitu suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu pekerjaan. Untuk suatu kegiatan-kegiatan tertentu prosesproses kegiatan harus berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi produksi dan ekonomis serta penggunaan semua sarana dan prasarana secara efektif dengan kaidah-kaidah yang lazim berlaku dalam kesehatan dan kesejahteraan ternak. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan tersebut di atas diperlukan sifat interaktif dari proses manajemen.


WHAT IS ANIMAL WELFARE?

Animal welfare is a concern for animal suffering and for animal satisfaction. Animal welfare science is the science of animal suffering and animal satisfaction. Neither suffering nor satisfaction can be measured directly, but the consequences of different causes of suffering and satisfaction can be compared in various ways. For example, animal welfare scientists have found that it is more stressful physiologically for a lamb to have its tail docked with a knife than with a rubber ring (Lester et al., 1996), and that it is more satisfying for a sow confined in a stall or farrowing crate to have snout contact with a neighbouring sow than to be in total isolation. One way of evaluating different causes of suffering is to measure the animal’s stress responses. A stress response is a physiological reaction in an animal to threatening or harmful situations. Distress is the emotional state that is created by the threatening or harmful situations. For example, distress would include the fear that causes some animals to shake uncontrollably when confronted with the novel sounds and situations at an auction market or abattoir. Suffering is a less precise term. Humans suffer in many different ways, including sickness, anxiety, fear, emotional deprivation, and through cold, heat, physical discomfort, pain, extreme thirst or hunger. No doubt animals also experience these feelings, which in extreme situations cause suffering. Some people adopt the view that society is largely to blame for animal suffering. ‘We have stuffed it up’ is a phrase I hear from students. However, not all forms of suffering are caused by humans. We have no control over the weather, although we may be in a position to try to protect animals from adverse weather. We do not have good control over all diseases, and these are a major cause of suffering in livestock. In many cases, where humans are to blame for suffering it has not been inflicted on purpose. Instead, it has occurred as a by-product of some other motive or aim. For example, it was inexperience by the broiler breeding companies that led to leg disorders and lameness in the modern broiler chicken; it was not intentional. In practice there are four situations where humans have some responsibility for animal suffering, and these are known as the Four I’s. They are:

Ignorance – not knowing what to do.

Inexperience – knowing what to do but not knowing how to do it.

Incompetence – inability to do it.

Inconsideration – not caring.

Bahan-bahan yang wajib dibaca:

http://www.mla-hhss.org/histdis.htm

http://encyclopedia.farlex.com/disease+(history)

http://www.bignell.uk.com/disease_in_history.htm

http://www.saltspring.com/capewest/pbl.htm

Pengantar



6 thoughts on “A. Pendahuluan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s